Dailylife,

Note to Self #1

08.10.00 Athia ZF 0 Comments

Note to Self: Don't measure your progress using somone else's ruler         
Source: pinterest



Tiga tahun saya sekolah di sekolah umum, saya akrab dengan nilai diatas kertas dan papan ranking. Menjadi satu diantara 150 siswa seangkatan, tiap kali ngeliat papan ranking selalu ada perasaan deg-degan. Apalagi saya sekolahnya jauh dari orangtua. Sering kepikiran, etdah gimana jelasinnya ke ortu kalo kita dapet ranking seratus sekian (?) 

Sebaliknya, tiga tahun terakhir, di jenjang SMA, saya baru kenal macam-macam kecerdasan. hey, dulu saya di didik dengan anggapan ranking atas artinya pintar, jika tidak? ya sebaliknya. 

Saya baca menurut Dr. Howard Gardner, ada delapan kecerdasan, mulai dari kecerdasan liguistik, matematika-logis, visual-spasial, musikal, kinestetis, intrapersonal, interpersonal dan naturalis. See? Anak pintar ternyata tidak hanya untuk yang jago matematika. Mirisnya, tidak semua jenis kecerdasan itu dilihat sebagai kecerdasan bagi beberapa bagian masyarakat kita.

Contoh nyatanya ada ketika saya tinggal di asrama. Teman dekat saya, entah bagaimana cara dia, bisa akrab dengan seluruh lapisan siswa. Lebih lagi, bisa dekat dengan kakak-adik kelas dan guru-guru. Eh, bukan hal sepele ini, karena nyatanya dengan temen seangkatan yang jumlahnya 150an dan temen sesekolah yang nyaris seribu, otomatis banyak banget karakter orang-orang didalamnya. Nggak semua bisa akrab/nyambung satu sama lain. Tapi teman saya yang satu ini bisa, dan dia terpilih jadi ketua angkatan akhirnya :) Si ranking satu mungkin bisa menarik perhatian guru-guru dan dikenal banyak orang, tapi tetep tidak bisa melebihi kharisma temen saya tadi, hehe. Mungkin itu yang disebut kecerdasan interpersonal.

Di SMA, teman saya tidak sebanyak ketika SMP, hanya 13 orang, sebelas lelaki, sisanya perempuan. Jumlah sedikit nggak berarti lebih mudah survive daripada ketika jumlah banyak. Kenapa? karena 13 ini serius beda-beda karakternya. Ada yang disiplin banget, ada yang sebaliknya. Ada yang gampang blend in, ada juga yang kakuu banget dan jadinya sering marahan he he. Tapi intinya, nggak ada yang salah dengan berbeda. Toleran.

Saya berharap kedepannya pendidikan indonesia juga fokus ke nilai-nilai seperti kejujuran, tepat waktu, disiplin, moral, seperti itu. Bukan sebaliknya, untuk ngejar nilai diatas kertas segala cara jadi dihalalin. Bukan juga malah karena kalah ranking, nilai ngga sip, malah desperate dan ngelakuin yang nggak-nggak.


move on, do your best, kita punya penggaris masing-masing.

You Might Also Like

0 komentar: