Dailylife,

Hadiah dari Tuhan, Hadiah dari Manusia.

08.30.00 Athia ZF 2 Comments


(lanjutan dari IG @athiazf) Aku kurang ingat persis urutan kejadiannya, yang kuingat, sempat naik turun-dari gedung satu ke gedung lain karena bingung. Balik lagi ketemu kakak-kakak mahkamah, naik lagi, turun lagi. Sampai akhirnya aku lihat kertas yang ditempel di tembok lantai 3, tulisannya "Ke Aula ya thi.." . Aula yang mereka maksud letaknya hanya satu tingkat dari lantai tempatku saat itu. HHHH, jadi daritadi harusnya tinggal naik satu lantai. Oke, naik.

Gelap. Aula yang lebarnya mungkin 10m dan panjangnya belasan meter itu gelap. Nggak kayak biasanya. Belum selesai aku mikir, tiba-tiba ada suara. Kaget. Ngga ada siapa-siapa di lantai itu, cuma aku.
Suara itu ada lagi, lebih terbilang cekikikan sebenarnya. Di salahsatu jendela aula, ada dua wajah perempuan. Ngeliat wajah mereka bikin lega, cekikikan itu dari mereka, bukan dari yang lain.

Aku buka pintu aula, masuk, lampu dinyalakan (bentuknya kayak lampu sorot, terang banget, ada disisi-sisi aula). Singkat cerita, dua perempuan tadi, yang kupanggil "mama" dan "adek" ngasih aku samting sepesial, sesuatu bernama jeli. Sah-sah saja kalian anggap aku berlebihan, hanya jeli, apanya yang spesial?
Kalian harus ada di asrama itu, setidaknya 2-3 tahun untuk beranggapan jeli itu istimewa. Momen itu istimewa. Ghina-yang kupanggil mama, dan Imub-yang kupanggil adek, mereka berdua menceritakan gimana rencana awalnya buat nakutin aku pake kakak-kakak mahkamah, yang ternyata sudah kenal dekat, dan ternyata kakak-kakak itu ramah banget.
Dua tahun berlalu sejak malam itu, dan aku baru sadar kalau dimalam tersebut, Tuhan ikut ngasih hadiah. Memang aku lupa beberapa detail dari malam itu, memang tidak ada selembar fotopun yang menjadi pembeku kenangan. Tapi, gimana bahagianya aku di hari itu, jelas masih terekam. Tuhan memberi hadiah yang disebut "kenangan". Hadiah yang tidak kenal materi, tidak bisa dibeli seperti hadiah  pada umumnya.

Dua tahun berlalu sejak malam itu. aku juga baru sadar kalau Tuhan ngasih hadiah lainnya. Setelah kami habiskan sepiring jelii bersama, kami juga habiskan malam dengan ngobrol ini-itu, nostalgia, sampai saling-tanya setelah lulus akan kemana. Tidak beramai-ramai, hanya bertiga. Tidak di pusat kota atau pusat perbelanjaan, kami bertiga hanya duduk di sisi lain aula. (di aula ada pintu kecil untuk ketempat ini, mungkin hanya tukang yang datang ketempat ini. Ini juga lantai tertinggi di sekolah). Sebut saja balkon, namun tanpa pagar, lantainya masih semen nggak rata. Di depan kami terlihat remang-remang hamparan sawah. Disudut lain ada gunung (yang sampai sekarang aku nggak tau itu gunung apa), dibawahnya terlihat kelap-kelip kecil lampu-lampu kota Malang.

Malam itu juga,Tuhan menghadiahkan 'selimut bintang', yang.... aduh, aku nggak bisa jelasin gimana kerennya. Dua tahun pergi dari tempat itu, tinggal di daerah perkotaan, dan aku baru sadar selimut bintang itu juga hadiahNya. Sama halnya kenangan, bintang-bintang itu nggak bisa dibeli.

Meski sekarang aku nggak bisa menikmat selimut bintang itu lagi, Tuhan menggantikannya dengan bintang-bintang lain. Bintang yang biasa kutemui di pagi sampai sore hari.

Mereka semua istimewa.  Merekalah bintang-bintang itu. 12 temen sekelas, 9 kakak kelas, 9 adek kelas, dan guru-guru. Jumlah yang jauh berbeda memang dengan ratusan (atau mungkin sampai seribu) temen di Malang, dua tahun lalu.  Nggak jarang aku sebal karena masalah jumlah ini. Jelas menyenangkan berada diantara 150 teman seangkatan, banyak warna, ramai. Bandingkan dengan sekarang, hanya 13 orang. 3-5 orang nggak masuk, kelas sepinya minta ampun. Sekali lagi, itu yang kasat mata.
Ketika aku nulis ini, dua tahun sudah aku bareng mereka semua. Mereka juga hadiah dari Tuhan.
Ah, kalau bahas tentang mereka semua, bisa-bisa jadi buku nantinya. Dibawah ini aku mau ceritain tanggal tiga-puluh-satu ku dari tahun ke tahun...

2014 Esok harinya dari malam itu. Aku nggak berharap banyak dapat hadiah, hey, di asrama nggak segampang itu untuk keluar-belanja. Entahlah, tapi tiba-tiba datang teddy ini, sebuah notebook, dan dua kotak coklat (yang ada hurufnya, edisi valentine banget). Semuanya dari adek kelas yang berbeda-beda, semuanya perempuan.
Sampai sekarang aku nggak tau alasan mereka berbaik hati kayak gitu. Juga entah bagaimana bisa mereka tau dan ingat tanggal lahirku (note: di asrama ngga boleh baawa HP, jelas mereka nggak dapat notif fb tentang siapa-yang-ualng-tahun hari itu). Entahlah, tapi terimakasih, rek.
Umurnya dua tahun :)
Kalau mereka, satu tahun.


2015 kurang-lebih 7 bulan setelah lulus dari Malang, dan bersekolah di Surabaya. Nggak disangka aku bertemu "lagi" dengan beberapa temen dan kakak kelas dari SD dulu. Di SD mungkin hanya sekedar tau nama, sekedar ngobrol kalau ada tugas, dan herannya dipertemukan lagi di SMA, seakan dikasih kesempatan buat kenal lagi.

Herannya, disekolah lain yang letaknya nggak jauh dari sekolahku, Dedek-salah seorang teman yang juga di asrama di Malang dulu, malah jadi teman dekat Chacha- teman SD ku, juga teman beberapa anak di sekolahku. Aku setuju dengan pernyataan "Dunia itu sempit". Alhasil kami saling berkenalan satu-sama lain, Dedek Chacha kukenalkan dengan teman-teman di sekolah, dan sebaliknya.

Herannya lagi, meskipun tak kenal dekat, hadiah mereka pada hari itu tiba di sekolah. Semua dalam satu kotak, istimewa. Bisa dibilang kado-kado diatas, adalah dari teman yang sudah lama dekat, teman yang baru dekat, teman yang baru kenal, teman yang baru kenal kedua kalinya. hehe.

2016. Tahun ke 17ku.
Fahri jadi orang pertama yang mengucapkan selamat, atau mungkin dia sudah mengucapkannya sebelum hari itu. Fahri juga satu-satunya orang yang dengan polosnya nagih kue :)) dasar.

Sepanjang tahun Tuhan mengirim hadiah-hadiah 'kenangan'. Mulai dari hal-hal kecil seperti sekedar makan siang bareng di luar, gitaran sambil nyanyi bareng, bagi tugas pas camping, kerja bareng di kepanitiaan, ngumpulin duit bareng, ngerjain project dengan perusahaan lain, ikut seminar, ikut workshop, ke Malang, ke Jakarta, ke Yogyakarta. Banyak pengalaman baru, masalah-masalah baru, dan guyonan-guyonan baru.

Kebanyakan murid di SMAku berasal dari SD/SMP yang sama dulunya, sementara aku? bolehlah dibilang No one knows me. Tapi mereka.... ah, peduli apa, mau berasal dari mars, atau dari gang dosen, mereka tetap bersedia mengisi, mewarnai lembaran baru dalam hidupku.
Memang, aku sudah nggak se-ambisius ketika SMP untuk ngerjar ranking, atau ngejar nilai 100. Tapi, semangat dan passion itu masih ada. Mereka, guru-guru, dan kedua orangtuaku menumbuhkannya seiring waktu. Entah harus pakai gaya apa aku berterimakasih pada mereka.

--Ada kado yang dikirim sebelum tiga-puluh-satu, ada yang tepat tiga-puluh-satu, dan ada yang tanggal 31++

32 Maret  a.k.a 1 april, kebetulan di rumahku lagi ada kerjaan-alhasil nggak masuk sekolah. Siangnya, entah siapa dan darimana, tiba-tiba ada kiriman-kiriman yang.. unexpected. Keduanya sama dibungkus rapi, satu elegan, satu rendah hati. Yang 'rendah hati' sungguh asdfghjkl (aku ngga nemu istilah yang pas). Disebut rendah hati karena bungkusnya ngga muluk-muluk, pakai koran. Disebut asdfghjkl karena... korannya lapis-lapis-lapis-lapis-lapis (entah berapa lapis, nyebelin, tapi super rapi, respect)
satu dulu aja yang di upload. :p
Unexpected, mereka bener-bener ngalamin improvement. Dari segi karya, segi bahasa (asli lucu baca tulisan mereka yang sehari-hari sarkas, dan nyoba puitis), juga ada yang benar-benar puitis. Aduh, bolehlah kusebut mahakarya. 

Kalau kata si ABand a.k.a anak bandung. kadonya bakal dia kasih tanggal 38 Maret, karena dia bakal di Bandung dulu seminggu, mwaha.  Penanggalan baru, dasar.

Kalau seorang temen di Malang, dia bahkan sudah nanyain 'list-apa-aja-yang-aku-mau-nanti-dia-beliin'. Bingung juga ya jawabnya, karena sebenernya ketemu--main n jalan bareng kayak dulu sudah bikin seneng nggak karuan. Tapi harga 'ketemuan' itu mahal, masalahnya.

Terakhir, do'aku, pinginnya bisa selalu bersyukur. Bersyukur atas apapun yang aku dapat, bersyukur atas apapun yang Ia beri. Karena mungkin jika rasa bersyukur itu hilang, semua hadiah Tuhan--atau hadiah manusia yang kuceritakan diatas nggak akan pernah aku sadari. 

You Might Also Like

2 komentar: