Bumi Memanas, Ulah Siapa?

08.04.00 Athia ZF 0 Comments

Sudah lama, sayang tak dihiraukanbegitulah nasib isu pemanasan global di dunia. Sejak 85 tahun lalu, laporan IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim) ke-5 telah memperingatkan kepada dunia agar segera melakukan gerakan yang mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), namun kenyataannya isu ini baru ramai diperbincangkan dua dekade belakangan ini.

Didasari hal tersebut, Espace Mendes France bekerjasama dengan Météo-France dan Universitas PoitiersEvent merancang Pesta Sains  2015. Pameran interaktif ini berisi laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) dengan judul “Iklim Berubah, dan Kita? ”.

Kak Eric Susanto, pemandu Pesta Sains sedang memberi penjelasan.

Pameran ini dilaksanakan di Institut Francais Indonesia, galeri AJBS Surabaya, 28 Agustus—12 September 2015.  Tujuan utama dari event  ini tidak hanya untuk menginformasikan kepada masyarakat mengenai tantangan besar perubahan iklim, namun juga mengajak masyarakat mengurangi faktor pemicu perubahan iklim. Yang sehari-hari kita rasakan adalah naiknya suhu bumi. Temperatur rata-rata global nakk sebesar 0.74° C selama abad ke-20 nyaris dua kali lipat dari rata-rata seratus tahun terakhir.



Hal tersebut disebabkan banyak hal, salah satunya karena meningkatnya gas rumah kaca. Gas-gas tersebut adalah H2O (air), CH4 (metana),  N2O (dinitrogen oksida), CO2 (karbondioksida), CFCI3 (Triklorofluorometana), dan O3 (ozon). Gas-gas ini diproduksi oleh peternakan hewan, kendaraan, mesin konstruksi, pembakaran batu bara,  AC, kulkas, dan peningkatan populasi manusia di bumi.
Beruang kutub mencoba bertahan diatas es yang nyaris tenggelam (source: national geographic)

Pemanasan suhu bumi berdampak pada  meningkatnya air laut di beberapa bagian negara setinggi 1m. Bedasarkan pengamatan terbaru, hal ini juga dipengaruhi melelehnya Greenland dan Antartika. 

Bisa dibayangkan jika beberapa dekade kedepan belum ada kesadaran dan gerakan bersama, dampak negatif ini bisa menyebabkan beruang kutub dan populasi di kutub kehilangan tempat tinggal, pulau-pulau kecil akan tenggelam, ketidak seimbangan ekosistem dimana-mana. 

Dari penelitian tersebut, harapannya masyarakat dapat mengurangi penggunaan gas rumah kaca, dan menjadikan 'bumi yang bersahabat' bagi makhluk hidup di dekade mendatang. 




You Might Also Like

0 komentar: