Note To Self #2: Bersyukur




Dia menyuruhku mengingat benda-benda bewarna biru yg ada di hadapanku, kemudian aku disuruhnya menutup mata, menyebutkan sebanyak mungkin benda biru yang kuingat.

Food truck: Pesen Makan Atas Nama 'Cinta'

Food truck yang mulanya berkembang di negara paman sam, sekarang mulai sering ditemui di Indonesia. Tren food truck memang sudah merambah Indonesia beberapa tahun belakangan. Kebetulan di bulan Juli sampe awal Agustus 2017 lalu lagi ada Food Truck Vaganza di Surabaya! Semacam food court di lapangan dan yang jualan pada di atas caravan. Karena masih penasaran sama si food truck ini, saya ajak adik-adik kelas teman jajan sehari-hari buat kesana bareng.


Kami berangkat ke event yang berlokasi di Food Festival, Pakuwon City ini habis magrib. Pengunjungnya ngga begiu banyak, karena memang hari itu hari senin, kabar baiknya nggak perlu ngantri lama-lama. Meskipun sepi, suasanya tetep asik dan 'hidup' berkat live music di panggung.


Acara ini dihadiri kurang lebih lima belas food truck, butuh dua kali muter sampe akhirnya kita mutusin mau pesen apa. Menu dan harganya bervariasi, dari yang cuma belasan sampe 40rb an ada, kalau minumnya sih banyaknya rata" di 20.
Pilihan pertama kami jatuh padaaaaa.... SAY CHEES. Sesuai namanya, variasi menunya keju banget! Harga kisaran 20. Jualnya didalem combi limousin, lucu, hehe. Aku dan Nada samaan pesen 'say cheese creamfrappe' dan makannya pesen creamy chees carbonara. Pesen satu buat bertiga, biar hemat dan duitnya dibuat nyobain menu lain, hehe. Kemudian kita cobain juga Martabak Pandega yang empat rasa, milo, ovaltine, meises dan keju.

Ngga sempet kefoto uda abis duluan, enak banget. :(
Ini jugaa parah enak.








Yang terakhir, Nada yang pesen. Nggak merhatiin dia pesen apa, tiga makanan, salah satunya kentang goreng. Ngga tau dia lagi laper, kurang aqua atau mungkin karena mas yang jual cakep, ditanya apa--jawabnya apa. Ga nyambung, sampe tiga kali. Abis ku colek, sadar, dan ngetawain diri sendiri. Belum selesai ketawa, si mas nanya "pesenannya atas nama siapa?". Si Nada masih yang masih ngetawain diri sendiri, ku bisik in, "atas nama cinta!". Abis itu kita bertiga ngelanjutin ngetawain diri sendiri.
Mirror selfie lvl food truck. eh ada si bapak.
Sekian, sampai jumpa di lain cerita!


wis-udah

Kalau kata orang wisuda adalah salah satu momen penting dalam hidup, tapi bagi saya wisuda hanya serangakaian acara formalitas. Bukan berarti tidak berkesan, tapi hari-hari selama tiga tahun yang saya habiskan bersama mereka jaaauhh lebih bermakna untuk diingat daripada satu hari wisuda.





Satu yang paling berkesan di hari wisuda ketika ngeliat lelaki-lelaki yang biasanya cuma kaosan oblong dan celana jeans tetiba jadi rapi pake jas berdasi, pangling! Paling haru adalah ketika tiap murid naik keatas panggung, sebelumnya salaman dulu sama guru-guru. Mencium tangan mereka seraya berterimakasih, "Terimakasih, pak" "Terimakasih, buk". Tatapan, genggaman tangan, pelukan, dan pesan yang mereka bisikkan bener-bener masuk ke hati. Haru juga ketika Bu Ita memberi sambutan, bukannya menyampaikan apa yang telah sekolah ini ajarkan--beliau justru bicara soal apa yang beliau pelajari setelah kenal kami semua. Sama seperti ketika awal masuk, pesan beliau agar kami selalu jujur.

Yang berbeda dari wisuda tahun sebelumnya adalah, kali ini yang hadir banyak! Tahun ini IC mewisuda tiga beas siswa, kalau dibandingin tahun sebelumnya ini tiga kali lipatnya.That's why ku bilang banyak, meskipun tiga belas juga sedikit sih untuk angka se-angkatan.
Sedihnya, tahun ini satu guru kami tidak hadir. Pak Aulia bahkan tidak sempat menemani kami sampai Ujian Nasional, beliau sudah berpulang terlebih dahulu. Wisuda kali ini juga sekaligus perpisahan dengan beberapa guru yang nggak ngajar lagi tahun depan.







Kabar baiknya, tahun ini kami punya buku kenangan. Kalau sering didapati di buku kenangan sekolah pada umumnya, mereka nyewa jasa fotografer dan desainer, kemudian menjadwalkan untuk foto-foto bareng yang berkonsep. Boro-boro nge-jadwalin foto bareng, masuk sekolah lengkap bertiga belas aja susah banget. (karena udah selesai UN juga sih).
Alhasil buku kami banyak diisi foto-foto lawas, ngumpulin file dari temen kanan-kiri, sampai kakak kelas juga. Sisanya kami foto seadanya, background seadanya, lighting matahari, pokoknya on budget dan anti-ribet! Thanks to dim yang mau repot-repot buat maskot dan ngerevisi ini-itu sampe tengah malem. Rasanya seru aja apalagi nginget kalo udah partneran sama dim dari kelas enam, bikin shortmovie Tugas Akhir bareng, sempet rundingan soal KaosPutih, berlanjut ke project kalender pas kelas dua dan buku kenangan sebagai penutup.


Tiga tahun lalu saya tidak pernah minta untuk bersekolah disini. Kemudian tiga tahun berlalu, saya belajar lebih banyak dari yang saya pernah bayangkan. Alhamdulillah.

sebait


Aku merindukan dialog-dialog yang sekalipun tak pernah ku impikan
Mereka menghujaniku begitu saja
Kemudian berlalu meninggalkan semerbak wangi tanah basah serta sejuk udara dalam paru-paru

Note to Self #1

Note to Self: Don't measure your progress using somone else's ruler         
Source: pinterest



Tiga tahun saya sekolah di sekolah umum, saya akrab dengan nilai diatas kertas dan papan ranking. Menjadi satu diantara 150 siswa seangkatan, tiap kali ngeliat papan ranking selalu ada perasaan deg-degan. Apalagi saya sekolahnya jauh dari orangtua. Sering kepikiran, etdah gimana jelasinnya ke ortu kalo kita dapet ranking seratus sekian (?) 

Sebaliknya, tiga tahun terakhir, di jenjang SMA, saya baru kenal macam-macam kecerdasan. hey, dulu saya di didik dengan anggapan ranking atas artinya pintar, jika tidak? ya sebaliknya. 

Saya baca menurut Dr. Howard Gardner, ada delapan kecerdasan, mulai dari kecerdasan liguistik, matematika-logis, visual-spasial, musikal, kinestetis, intrapersonal, interpersonal dan naturalis. See? Anak pintar ternyata tidak hanya untuk yang jago matematika. Mirisnya, tidak semua jenis kecerdasan itu dilihat sebagai kecerdasan bagi beberapa bagian masyarakat kita.

Contoh nyatanya ada ketika saya tinggal di asrama. Teman dekat saya, entah bagaimana cara dia, bisa akrab dengan seluruh lapisan siswa. Lebih lagi, bisa dekat dengan kakak-adik kelas dan guru-guru. Eh, bukan hal sepele ini, karena nyatanya dengan temen seangkatan yang jumlahnya 150an dan temen sesekolah yang nyaris seribu, otomatis banyak banget karakter orang-orang didalamnya. Nggak semua bisa akrab/nyambung satu sama lain. Tapi teman saya yang satu ini bisa, dan dia terpilih jadi ketua angkatan akhirnya :) Si ranking satu mungkin bisa menarik perhatian guru-guru dan dikenal banyak orang, tapi tetep tidak bisa melebihi kharisma temen saya tadi, hehe. Mungkin itu yang disebut kecerdasan interpersonal.

Di SMA, teman saya tidak sebanyak ketika SMP, hanya 13 orang, sebelas lelaki, sisanya perempuan. Jumlah sedikit nggak berarti lebih mudah survive daripada ketika jumlah banyak. Kenapa? karena 13 ini serius beda-beda karakternya. Ada yang disiplin banget, ada yang sebaliknya. Ada yang gampang blend in, ada juga yang kakuu banget dan jadinya sering marahan he he. Tapi intinya, nggak ada yang salah dengan berbeda. Toleran.

Saya berharap kedepannya pendidikan indonesia juga fokus ke nilai-nilai seperti kejujuran, tepat waktu, disiplin, moral, seperti itu. Bukan sebaliknya, untuk ngejar nilai diatas kertas segala cara jadi dihalalin. Bukan juga malah karena kalah ranking, nilai ngga sip, malah desperate dan ngelakuin yang nggak-nggak.


move on, do your best, kita punya penggaris masing-masing.

2017: Bunuh rasa takutmu

Bicara soal 2016, saya sangat bersyukur atas kesempatan-kesempatan baru yang dikasih Tuhan.
Banyak sekali 'pertamakali' di tahun kemarin, seperti  pertama kali ketemu Alvin Faiz dan Larissa, ketemu dua youtuber Agung dan Fathia, datang ke nikahan guru,, ikutan Zetizen Interactive Artwork, ngadain acara IC Entrepreneur's Day sampai pertama kali temenan sama bule.
Banyak 'pertama kali' yang menyenangkan, mengesankan...tapi juga ada yang sedikit tidak menyenangkan, bikin bingung, bikin capek. Keduanya sama, sama-sama nggak gampang dilupain. Tapi nggak apa, namanya juga hidup--bukan dongeng apalagi FTV yang problemnya soal cinta-cintaan mulu. Punya masalah itu biasa, soalnya semua orang juga punya. Masalah yang saya alami setahun kemarin mungkin hanya sekedar masalah klasik anak SMA. 'Hanya sekedar' ... realitanya, susah juga nyelesainnya. Apalagi di penghujung 2016, rasanya risau banget mikirin nanti 2017 bakal gimana'. Semester terakhir di SMA agaknya banyak hal baru yang bakal terjadi, mulai dari magang, Tugas Akhir, UN dan setelahnya mau kemana?

Meninggalkan tahun 2016 juga berarti meninggalkan usia tujuh belas.
Meninggalkan usia tujuh belas dengan harapan jadi lebih 'bener' kedepannya. Membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa, begitu kata Mbak Windy, salah seorang pengajar di sekolah.
Saya pingin lebih dewasa sekaligus pingin kembali jadi anak-anak. Menjadi lebih dewasa untuk nyelesain masalah, bijaksana ngatur waktu, konsisten, fokus, sekaligus jadi pibadi yang terbuka--bisa main sama siapa aja, nyobain hal-hal baru, nggak gampang takut, kayak anak kecil.
Pernah saya baca di salahsatu postingan kak Sweta Kartika,
A: Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa bertualang sepertimu?
B: Bertualang itu cuma satu syaratnya..
Biarkanlah rasa ingin tahumu membunuh rasa takutmu

Terbuka dengan semua kesempatan, usaha, sisanya percaya sama Tuhan. Saya yakin akan banyak 'pertama kali' lainnya untuk kita-kita yang mau membunuh rasa takut diri sendiri, open minded, dan berani keluar dari rutinitas. Semangat! Semoga tahun ini kita sama-sama jadi pribadi yang lebih baik. Sampai jumpa di lain cerita.