sebait


Aku merindukan dialog-dialog yang sekalipun tak pernah ku impikan
Mereka menghujaniku begitu saja
Kemudian berlalu meninggalkan semerbak wangi tanah basah serta sejuk udara dalam paru-paru

Note to Self #1

Note to Self: Don't measure your progress using somone else's ruler         
Source: pinterest



Tiga tahun saya sekolah di sekolah umum, saya akrab dengan nilai diatas kertas dan papan ranking. Menjadi satu diantara 150 siswa seangkatan, tiap kali ngeliat papan ranking selalu ada perasaan deg-degan. Apalagi saya sekolahnya jauh dari orangtua. Sering kepikiran, etdah gimana jelasinnya ke ortu kalo kita dapet ranking seratus sekian (?) 

Sebaliknya, tiga tahun terakhir, di jenjang SMA, saya baru kenal macam-macam kecerdasan. hey, dulu saya di didik dengan anggapan ranking atas artinya pintar, jika tidak? ya sebaliknya. 

Saya baca menurut Dr. Howard Gardner, ada delapan kecerdasan, mulai dari kecerdasan liguistik, matematika-logis, visual-spasial, musikal, kinestetis, intrapersonal, interpersonal dan naturalis. See? Anak pintar ternyata tidak hanya untuk yang jago matematika. Mirisnya, tidak semua jenis kecerdasan itu dilihat sebagai kecerdasan bagi beberapa bagian masyarakat kita.

Contoh nyatanya ada ketika saya tinggal di asrama. Teman dekat saya, entah bagaimana cara dia, bisa akrab dengan seluruh lapisan siswa. Lebih lagi, bisa dekat dengan kakak-adik kelas dan guru-guru. Eh, bukan hal sepele ini, karena nyatanya dengan temen seangkatan yang jumlahnya 150an dan temen sesekolah yang nyaris seribu, otomatis banyak banget karakter orang-orang didalamnya. Nggak semua bisa akrab/nyambung satu sama lain. Tapi teman saya yang satu ini bisa, dan dia terpilih jadi ketua angkatan akhirnya :) Si ranking satu mungkin bisa menarik perhatian guru-guru dan dikenal banyak orang, tapi tetep tidak bisa melebihi kharisma temen saya tadi, hehe. Mungkin itu yang disebut kecerdasan interpersonal.

Di SMA, teman saya tidak sebanyak ketika SMP, hanya 13 orang, sebelas lelaki, sisanya perempuan. Jumlah sedikit nggak berarti lebih mudah survive daripada ketika jumlah banyak. Kenapa? karena 13 ini serius beda-beda karakternya. Ada yang disiplin banget, ada yang sebaliknya. Ada yang gampang blend in, ada juga yang kakuu banget dan jadinya sering marahan he he. Tapi intinya, nggak ada yang salah dengan berbeda. Toleran.

Saya berharap kedepannya pendidikan indonesia juga fokus ke nilai-nilai seperti kejujuran, tepat waktu, disiplin, moral, seperti itu. Bukan sebaliknya, untuk ngejar nilai diatas kertas segala cara jadi dihalalin. Bukan juga malah karena kalah ranking, nilai ngga sip, malah desperate dan ngelakuin yang nggak-nggak.


move on, do your best, kita punya penggaris masing-masing.

2017: Bunuh rasa takutmu

Bicara soal 2016, saya sangat bersyukur atas kesempatan-kesempatan baru yang dikasih Tuhan.
Banyak sekali 'pertamakali' di tahun kemarin, seperti  pertama kali ketemu Alvin Faiz dan Larissa, ketemu dua youtuber Agung dan Fathia, datang ke nikahan guru,, ikutan Zetizen Interactive Artwork, ngadain acara IC Entrepreneur's Day sampai pertama kali temenan sama bule.
Banyak 'pertama kali' yang menyenangkan, mengesankan...tapi juga ada yang sedikit tidak menyenangkan, bikin bingung, bikin capek. Keduanya sama, sama-sama nggak gampang dilupain. Tapi nggak apa, namanya juga hidup--bukan dongeng apalagi FTV yang problemnya soal cinta-cintaan mulu. Punya masalah itu biasa, soalnya semua orang juga punya. Masalah yang saya alami setahun kemarin mungkin hanya sekedar masalah klasik anak SMA. 'Hanya sekedar' ... realitanya, susah juga nyelesainnya. Apalagi di penghujung 2016, rasanya risau banget mikirin nanti 2017 bakal gimana'. Semester terakhir di SMA agaknya banyak hal baru yang bakal terjadi, mulai dari magang, Tugas Akhir, UN dan setelahnya mau kemana?

Meninggalkan tahun 2016 juga berarti meninggalkan usia tujuh belas.
Meninggalkan usia tujuh belas dengan harapan jadi lebih 'bener' kedepannya. Membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa, begitu kata Mbak Windy, salah seorang pengajar di sekolah.
Saya pingin lebih dewasa sekaligus pingin kembali jadi anak-anak. Menjadi lebih dewasa untuk nyelesain masalah, bijaksana ngatur waktu, konsisten, fokus, sekaligus jadi pibadi yang terbuka--bisa main sama siapa aja, nyobain hal-hal baru, nggak gampang takut, kayak anak kecil.
Pernah saya baca di salahsatu postingan kak Sweta Kartika,
A: Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa bertualang sepertimu?
B: Bertualang itu cuma satu syaratnya..
Biarkanlah rasa ingin tahumu membunuh rasa takutmu

Terbuka dengan semua kesempatan, usaha, sisanya percaya sama Tuhan. Saya yakin akan banyak 'pertama kali' lainnya untuk kita-kita yang mau membunuh rasa takut diri sendiri, open minded, dan berani keluar dari rutinitas. Semangat! Semoga tahun ini kita sama-sama jadi pribadi yang lebih baik. Sampai jumpa di lain cerita.

Agung&Fathia: Tips n Trick For New Youtubers

Youtube.com sudah tidak asing lagi di telinga netizen dunia maupun Indonesia. Tak hanya menonton video, belakangan mulai bermunculan para youtube creator, sebutan bagi mereka yang membuat konten video kemudian diupload di Youtube. Konten yang mereka buat sangat beragam, mulai fashion, beauty, gaming, cinematografi, musik, komedi, teknologi, sampai kegiatan sehari-hari.

Minggu (4/12) lalu, saya berkesempatan mengikuti talkshow dua youtuber muda Indonesia yang merupakan salah satu segmen dari event IDN Creativefest. Fathia Izzati atau biasa dipanggil Chia adalah mahasiswi Fakultas Hukum UI  sementara Agung adalah siswa SMAN 1 Tanah Grogot, Kaltim.

Sebenarnya ada beberapa youtuber atau influencer lain yang juga diundang dalam event ini, namun dibagi dalam beberapa hari. Untuk masuk venue sama sekali tidak dikenakan biaya alias free entry! IDN Creativefest ini berlokasi di PTC Surabaya-- yang sayangnya nan jauh dari rumah saya, jadi saya cuma bisa memilih satu hari untuk didatangi. Akhirnya saya memilih hari dimana dua youtuber muda ini hadir. Sesi mereka terbagi menjadi dua, yakni di stage utama dan stage exlusive (meet and greet), perbedannya yang kedua tentu berbayar, yakni 200rb

Portfolio: 84 pages, thousand memories

Kreatif Selamanya adalah ajang kreatifitas tahunan yang diselanggarakan sekolah saya, IC School Surabaya. Pada 2016, Kreatif Selamanya memasuki tahun yang keempat. Berbeda dari tahun lalu, dimana saya sebagai ketua panitia, kali ini saya dapat tugas handle dibagian desain. Bagian dimana photoshop  sudah kayak nasi, jadi makanan sehari-hari. Bagian dimana  free space hardisk nggak lebih dari 1GB. Bagian paling menyenangkan sekaligus melelahkan.
Acara KS—singkatan Kreatif Selamanya—hanya berlangsung selama dua hari.  Tapi, persiapannya berkali-kali lipat lamanya. Salahsatu yang harus kami siapkan adalah tugas “Tiap murid harus bikin 1 portofolio, 1 kartunama, 1 produk” untuk didisplay selama acara.


PORTOFOLIO
Dari keseluruhan acara, tahun ini saya paling semangat pas bikin portofolio. Alasannya simpel, cuma karena greget. Tahun lalu, setelah bikin porto di kelas satu, saya dan teman-teman lainnya banyak mendatangi  pameran-pameran TA atau sekedar pameran karya DKV/Despro dari berbagai universitas, seperti ITS, UK Petra, Stikom, UPN, sampai ISI Jogja. wah parah keren-keren! Saya juga greget pas liat karya-karya teman sekelas maupun kakak kelas yang improve banget dibandingkan tahun sebelumnya.

Acaranya memang baru dilaksanakan bulan Mei, tapi di properties folder portofolio saya, tertulis dibuat sejak awal  November 2015, yang artinya proses pembuatan portofolio ini terhitung tujuh bulan. Selama itu saya cuma mengumpulkan karya demi karya, foto demi foto ke dalam folder tersebut. Pada  tiga bulan terakhir sebelum acara barulah saya seleksi. Beberapa karya dipasang di mockup, beberapa foto di retouch, dll. Urusan cover, layout, serta caption karya baru digarap diakhir proses.

Hal lain yang saya suka dari proses ini adalah “tidak ada revisi-revisian”. Sebelum cetak, memang harus di cek dahulu oleh guru saya, tidak banyak yang harus diubah, sebatas tambahan tulisan. Selebihnya, saya bisa all-out. Wah, seneng banget bisa bikin sesuatu yang “saya banget”, sekaligus  mereview diri sendiri, dari sekolah saya dapat ilmu apa, lalu apakah dengan itu saya bisa memberi manfaat buat orang lain...


and here it is, hasil begadang, hasil belajar saya,,

Ketika acara Kreatif Selamanya
Seru banget, kebetulan karena Bu Rista (dulunya pengajar disekolah, tapi beberapa waktu lalu pindah) datang ke event ini, kami sempatkan untuk portfolio-tour. Ada sekitar 30+ portofolio, saking lamanya dan banyak banget bahan obrolan kami, jadi persis rumpi :)) Diakhir tour itu, kami review apa yang perlu diperbaiki di portofolio masing-masing agar lebih baik untuk selanjutnya.

Lanjut ke halaman pertama portofolio saya,

Hadiah dari Tuhan, Hadiah dari Manusia.


(lanjutan dari IG @athiazf) Aku kurang ingat persis urutan kejadiannya, yang kuingat, sempat naik turun-dari gedung satu ke gedung lain karena bingung. Balik lagi ketemu kakak-kakak mahkamah, naik lagi, turun lagi. Sampai akhirnya aku lihat kertas yang ditempel di tembok lantai 3, tulisannya "Ke Aula ya thi.." . Aula yang mereka maksud letaknya hanya satu tingkat dari lantai tempatku saat itu. HHHH, jadi daritadi harusnya tinggal naik satu lantai. Oke, naik.

Gelap. Aula yang lebarnya mungkin 10m dan panjangnya belasan meter itu gelap. Nggak kayak biasanya. Belum selesai aku mikir, tiba-tiba ada suara. Kaget. Ngga ada siapa-siapa di lantai itu, cuma aku.
Suara itu ada lagi, lebih terbilang cekikikan sebenarnya. Di salahsatu jendela aula, ada dua wajah perempuan. Ngeliat wajah mereka bikin lega, cekikikan itu dari mereka, bukan dari yang lain.

Aku buka pintu aula, masuk, lampu dinyalakan (bentuknya kayak lampu sorot, terang banget, ada disisi-sisi aula). Singkat cerita, dua perempuan tadi, yang kupanggil "mama" dan "adek" ngasih aku samting sepesial, sesuatu bernama jeli. Sah-sah saja kalian anggap aku berlebihan, hanya jeli, apanya yang spesial?
Kalian harus ada di asrama itu, setidaknya 2-3 tahun untuk beranggapan jeli itu istimewa. Momen itu istimewa. Ghina-yang kupanggil mama, dan Imub-yang kupanggil adek, mereka berdua menceritakan gimana rencana awalnya buat nakutin aku pake kakak-kakak mahkamah, yang ternyata sudah kenal dekat, dan ternyata kakak-kakak itu ramah banget.